Jumat, 06 Maret 2026

Bawa Bekal

Mungkin sudah hampir setahun aku ga pernah lagi melakukan perjalanan dinas. Sepertinya terakhir ke Muara Teweh selama 3 hari. Sebuah perjalanan yang cukup panjang menempuh kurang lebih 7-8 jam via darat. 1 hari perjalanan berangkat, 1 hari bertugas, dan 1 hari berikutnya kembali ke Palangka Raya.

Dalam perjalanan tersebut aku perlu membawa bekal. Beberapa stel  pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan ibadah, dan tentunya membawa uang dengan jumlah yang sudah diperhitungkan. Semuanya dipersiapkan untuk membuat perjalanan lancar dan nyaman.

Kurang lebih setahun yang lalu aku juga punya kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah. Sebuah perjalanan yang lebih panjang dan jauh serta tentunya lebih sulit. Bekalnya tentu saja harus lebih dipersiapkan lagi. Baik itu bekal fisik, biaya, waktu, Dan lain sebagainya.

Dalam Islam juga ada sebuah perjalanan yang sangat panjang yaitu perjalanan menuju akhirat. Dimulai dari kehidupan di alam roh, rahim, alam dunia, alam kubur, dan hingga akhirnya berkunjung di alam akhirat Seberapa panjang dan Seberapa sulitnya? Wallahu a'lam.

Tentunya dalam menempuh perjalanan panjang menuju akhirat ini kita juga harus membawa bekal. Bekal yang banyak bahkan mungkin sangat banyak agar nanti memudahkan kita dalam mengarunginya. Alam tempat kita mempersiapkan bekal tersebut adalah alam dunia.

Bekal yang harus disiapkan menurut para guru-guru dan alim ulama diantaranya adalah amal baik atau sering disebut amal shalih. Amal Shalih menurut Hasybi Ash-Shiddieqy ialah semua pekerjaan dan upaya berwujud tenaga, pikiran, maupun harta yang memberikan kebaikan kepada diri sendiri, keluaraga, dan masyarakat luas. Jelasnya, semua pekerjaan yang mendatangkan kebaikan, baik bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Menurut Syekh Sya’rawi, orang shalih itu ada dua macam, shalih duniawi dan shalih ukhrawi. Pertama, shalih duniawi adalah shalih dalam arti asal, yakni orang yang berkepribadian baik sehingga di manapun berada ia tidak merugikan tapi justru banyak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Namun kesalehan semacam ini hanya berdimensi etis, bahwa apa yang dilakukannya itu baik atau benar berdasarkan pertimbangan akal sehat. Kesalehan tersebut bersifat universal dan dapat diakui secara rasional oleh semua manusia. Kedua, shalih ukhrawi, yakni keshalihan yang lahir dari keimanan. Kebaikan yang dilakukan sebagai ekspresi dari ketaatan kepada Tuhan. Artinya, seseorang berkepribadian atau melakukan kebaikan tidak sekedar karena tuntutan etika, tapi juga atas kesadaran penuh sebagai seorang hamba Allah untuk berbuat baik kepada sesama hamba dan ciptaan-Nya. Untuk itu dalam setiap tindakannya, ia juga selalu memperhatikan aturan-aturan dan hukum agama, seperti halal dan haram, atau wajib dan sunnah.

Rasulullah menyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yaitu, “Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.’”.

Jadi mari kita siapkan bekal kita untuk perjalanan panjang nan abadi nanti. Tentunya dengan amal-amal terbaik kita di dunia yang tidak panjang ini.

Referensi:

https://www.suaramuhammadiyah.id/read/bekal-menuju-akhirat

https://www.nu.or.id/opini/makna-saleh-dan-macam-macamnya-MCjsD

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/ini-jumlah-rata-rata-usia-umat-nabi-muhammad-saw-bMXrX

0 comments:

Posting Komentar