QS At Taubah: 119

"Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar"

Jumat, 06 Maret 2026

Bawa Bekal

Mungkin sudah hampir setahun aku ga pernah lagi melakukan perjalanan dinas. Sepertinya terakhir ke Muara Teweh selama 3 hari. Sebuah perjalanan yang cukup panjang menempuh kurang lebih 7-8 jam via darat. 1 hari perjalanan berangkat, 1 hari bertugas, dan 1 hari berikutnya kembali ke Palangka Raya.

Dalam perjalanan tersebut aku perlu membawa bekal. Beberapa stel  pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan ibadah, dan tentunya membawa uang dengan jumlah yang sudah diperhitungkan. Semuanya dipersiapkan untuk membuat perjalanan lancar dan nyaman.

Kurang lebih setahun yang lalu aku juga punya kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah. Sebuah perjalanan yang lebih panjang dan jauh serta tentunya lebih sulit. Bekalnya tentu saja harus lebih dipersiapkan lagi. Baik itu bekal fisik, biaya, waktu, Dan lain sebagainya.

Dalam Islam juga ada sebuah perjalanan yang sangat panjang yaitu perjalanan menuju akhirat. Dimulai dari kehidupan di alam roh, rahim, alam dunia, alam kubur, dan hingga akhirnya berkunjung di alam akhirat Seberapa panjang dan Seberapa sulitnya? Wallahu a'lam.

Tentunya dalam menempuh perjalanan panjang menuju akhirat ini kita juga harus membawa bekal. Bekal yang banyak bahkan mungkin sangat banyak agar nanti memudahkan kita dalam mengarunginya. Alam tempat kita mempersiapkan bekal tersebut adalah alam dunia.

Bekal yang harus disiapkan menurut para guru-guru dan alim ulama diantaranya adalah amal baik atau sering disebut amal shalih. Amal Shalih menurut Hasybi Ash-Shiddieqy ialah semua pekerjaan dan upaya berwujud tenaga, pikiran, maupun harta yang memberikan kebaikan kepada diri sendiri, keluaraga, dan masyarakat luas. Jelasnya, semua pekerjaan yang mendatangkan kebaikan, baik bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Menurut Syekh Sya’rawi, orang shalih itu ada dua macam, shalih duniawi dan shalih ukhrawi. Pertama, shalih duniawi adalah shalih dalam arti asal, yakni orang yang berkepribadian baik sehingga di manapun berada ia tidak merugikan tapi justru banyak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Namun kesalehan semacam ini hanya berdimensi etis, bahwa apa yang dilakukannya itu baik atau benar berdasarkan pertimbangan akal sehat. Kesalehan tersebut bersifat universal dan dapat diakui secara rasional oleh semua manusia. Kedua, shalih ukhrawi, yakni keshalihan yang lahir dari keimanan. Kebaikan yang dilakukan sebagai ekspresi dari ketaatan kepada Tuhan. Artinya, seseorang berkepribadian atau melakukan kebaikan tidak sekedar karena tuntutan etika, tapi juga atas kesadaran penuh sebagai seorang hamba Allah untuk berbuat baik kepada sesama hamba dan ciptaan-Nya. Untuk itu dalam setiap tindakannya, ia juga selalu memperhatikan aturan-aturan dan hukum agama, seperti halal dan haram, atau wajib dan sunnah.

Rasulullah menyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yaitu, “Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.’”.

Jadi mari kita siapkan bekal kita untuk perjalanan panjang nan abadi nanti. Tentunya dengan amal-amal terbaik kita di dunia yang tidak panjang ini.

Referensi:

https://www.suaramuhammadiyah.id/read/bekal-menuju-akhirat

https://www.nu.or.id/opini/makna-saleh-dan-macam-macamnya-MCjsD

https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/ini-jumlah-rata-rata-usia-umat-nabi-muhammad-saw-bMXrX

Minggu, 01 Maret 2026

Kotak Infaq Masjid

Aku adalah sebuah kotak infaq masjid. Orang-orang biasa memanggil aku dengan kotak amal atau celengan masjid. Apapun itu sebutannya, inilah sedikit kisahku.

Di pojokan sana, aku ditaruh dan terdiam tak bergerak selama 7 hari penuh karena setiap hari Jum'at pengurus masjid akan membuka dan mengeluarkan isiku rutin untuk membuat laporan kas mingguan. Setiap hari aku siap sedia bagi siapa saja yang ingin berinfaq untuk masjid ini. Tidak sedikit yang cuek terhadap  keberadaanku, namun tidak sedikit pula yang mendekat dan menyuapi aku dengan lembaran berharga yang nilainya tidak besar serta lusuh. Tak sedikit juga yang memasukkan lembaran yang sudah rusak. Mungkin pikirnya daripada ga laku dibelanjakan mending masuk celengan masjid saja.

Pagi hari ini disaat waktu terbaik shalat dhuha, seperti biasanya masjid sepi, ada seorang pengunjung masuk masjid. Aku kira dia akan shalat dhuha namun ternyata tidak. Dia hanya menghampiriku dan memasukkan lembaran nominal terbesar yang ada di dompetnya sambil  berlirih, "Ya Allah melalui amal infaq ku hari ini aku berharap Engkau memberi aku rezeki yang banyak". Ooh dia sedang ber-tawassul dengan amalnya. Salah satu tawassul yang diperbolehkan oleh para alim ulama.

Tidak lama berselang,  datang lagi seseorang mendekati aku. Pikirku mungkin dia juga ingin  bertawassul dengan amalnya. Tapi ternyata tidak. Dia mengeluarkan sebuah besi kecil namun keras. Sambil waspada terhadap keadaan, dia mencongkel tubuhku. Isiku berhamburan, orang ini bergegas untuk mengumpulkannya dan pergi begitu saja meninggalkan tubuhku yang terkoyak.

Ya Allah hari ini aku melihat dua orang yang sama-sama berusaha menggapai rezekiMu namun dengan cara berbeda. Yang satu bertawassul terhadap amalnya untuk mendapatkan ridhaMu namun yang satu lagi berbuat hal yang bagi orang lain adalah perbuatan tercela. Ah aku tak peduli apa yang mereka lakukan tapi di benakku aku meyakini keduanya sama-sama sedang membutuhkan uang meskipun aku ga pernah tau kebutuhannya untuk apa.

Senin, 23 Februari 2026

Menampung Curahan Rahmat Allah


Tulisan ini terinspirasi dari isi ceramah Ustadz Amrul Isyadi, LC yang disampaikan pada hari kamis, 18 Februari 2026 atau bertepata dengan malam 2 Ramadan 1447 H di Masjid Ar-Raudlah Bamaraya Palangka Raya. Kalimat yang ditulis tidak sama persis namun insyaallah inti dari ceramahnya tersampaikan.

Allah itu mencurahkan rahmatNya setiap saat namun pada bulan Ramadan, rahmat itu tercurah seperti halnya hujan yang sangat deras.

Dengan menggunakan analogi hujan deras, maka masing-masing dari kita mempunyai perlakuan berbeda terhadap hujan yang turun itu. Ada yang menampungnya dan ada yang membiarkannya mengalir begitu saja. Bagi menampung tentunya akan menampung dengan gelas, atau dengan bejana, ember, baskom, dan lain-lain sesuai dengan tampungan yang dimiliki orang tersebut. Bagi yang membiarkannya maka air hujan tersebut akan mengalir begitu saja tanpa bisa dimanfaatkan langsung.

Begitu juga dengan curahan rahmat Allah di bulan Ramadan ini. Kita juga harus menampungnya, tentunya dengan penampungan yang kita punya. Bagi yang suka berpuasa maka tampunglah dengan pelaksanaan puasa yang sempurna, bagi yang suka shalat maka tampunglah dengan perbanyak shalat malam, bagi yang suka baca Al Quran maka tampungnya dengan memperbanyak membacanya, bagi yang senang bersedekah maka perbanyaklah sedekahnya.

Mari kita tampung rahmat Allah di bulan Ramadan yang mengucur deras seperti hujan ini dengan penampungan kita masing-masing. Wallahu a'lam 

Kamis, 05 Februari 2026

Rukun Dan Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

Ini adalah kultum yang disampaikan pada tanggal 31 Maret 2024 M atau bertepatan dengan tanggal 20 Ramadhan 1445 H di Masjid Bamaraya Palangka Raya.

Rukun puasa:

  1. Niat; Niat bisa diambil ketika tenggelam matahari (maghrib) sampai adzan subuh (puasa wajib) atau sampai zuhur (puasa sunnah). Niat puasa wajib tidak boleh digabung dengan puasa wajib yang lain sedangkan puasa sunnah boleh. Contoh puasa wajib: puasa Ramadhan, puasa nazar, puasa kafarat
  2. Meninggalkan Hal-hal yang dapat Membatalkan puasa dalam keadaan sadar; Boleh melakukannya jika dalam keadaan lupa, terancam, atau orang jahil (yang tidak paham tentang apa saja yang membatalkan puasa). Orang jahil yang dimaksud adalah karena jauh jaraknya dari ulama sehingga sulit untuk belajar tentang agama atau orang yang baru masuk Islam (muallaf)

Hal-hal yang membatalkan puasa:

  1. Murtad
  2. Haid atau nifas atau melahirkan. Termasuk juga keguguran
  3. Gila (hilang akal)
  4. Pingsan seharian penuh atau mabuk
  5. Berhubungan suami-istri (jima'). Berdosa dan mendapat sanksi dari hakim serta harus membayar kafarat berupa membebaskan budak; jika tidak mampu maka berpuasa 2 bukan berturut-turut; jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin
  6. Memasukkan benda/sesuatu ke dalam tubuh melalui rongga terbuka (mulut, hidung, telinga, kemaluan depan/belakang). Batasan mulut adalah sampai ditelan. Ludah boleh ditelan jika: (1) ludah sendiri; (2) belum keluar dari mulut; (3) tidak tercampur dengan hal lain. Batasan hidung adalah sampai batas istinsyaq. Batasan telinga adalah sampai maksimalnya masuk jari kelingking. Batasan kemaluan depan/belakang adalah batas masuknya air
  7. Muntah dengan sengaja
  8. Mengeluarkan mani dengan sengaja

Perhatikan!

  • Tidak mengapa jika ada sisa sedikit air kumur-kumur saat akan berwudhu. Hati-hati dengan bersikat gigi menggunakan pasta gigi. Bersiwak boleh hingga zuhur, selebihnya hukumnya makruh
  • Niat puasa sunnah batasnya sampai zuhur dengan syarat sebelum zuhur tidak melakukan Hal-hal yang membatalkan puasa
  • Mencicipi masakan itu boleh asal tidak ditelan 
  • Gabung niat puasa qadha dan sunnah itu boleh 

Rabu, 04 Februari 2026

Syarat Sah Dan Wajib Puasa

Ini adalah kultum yang disampaikan pada tanggal 24 Maret 2024 M atau bertepatan dengan tanggal 13 Ramadhan 1445 H di Masjid Bamaraya Palangka Raya.

Syarat sah puasa:

  1. Islam
  2. Berakal (mukallaf)
  3. Suci dari haid dan nifas bagi perempuan
  4. Mengetahui hari saat berpuasa adalah hari yang diperbolehkan untuk berpuasa 

Syarat wajib puasa:

  1. Islam
  2. Mukallaf (baligh dan berakal). Anak-anak sebaiknya diajarkan (dilatih) berpuasa oleh orangtuanya
  3. Mampu berpuasa secara fisik, psikis, dan syarat
  4. Sehat wal 'afiat. Tidak sedang sakit yang menyebabkan kematian, memperlambat kesembuhan, atau memperparah sakitnya
  5. Bukan dalam keadaan musafir dengan jarak minimal 82 km dan bukan safar untuk maksiat dan berangkat sebelum subuh. Jika inging berpuasa dan mampu maka lebih afdhal