Aku adalah sebuah kotak infaq masjid. Orang-orang biasa memanggil aku dengan kotak amal atau celengan masjid. Apapun itu sebutannya, inilah sedikit kisahku.
Di pojokan sana, aku ditaruh dan terdiam tak bergerak selama 7 hari penuh karena setiap hari Jum'at pengurus masjid akan membuka dan mengeluarkan isiku rutin untuk membuat laporan kas mingguan. Setiap hari aku siap sedia bagi siapa saja yang ingin berinfaq untuk masjid ini. Tidak sedikit yang cuek terhadap keberadaanku, namun tidak sedikit pula yang mendekat dan menyuapi aku dengan lembaran berharga yang nilainya tidak besar serta lusuh. Tak sedikit juga yang memasukkan lembaran yang sudah rusak. Mungkin pikirnya daripada ga laku dibelanjakan mending masuk celengan masjid saja.
Pagi hari ini disaat waktu terbaik shalat dhuha, seperti biasanya masjid sepi, ada seorang pengunjung masuk masjid. Aku kira dia akan shalat dhuha namun ternyata tidak. Dia hanya menghampiriku dan memasukkan lembaran nominal terbesar yang ada di dompetnya sambil berlirih, "Ya Allah melalui amal infaq ku hari ini aku berharap Engkau memberi aku rezeki yang banyak". Ooh dia sedang ber-tawassul dengan amalnya. Salah satu tawassul yang diperbolehkan oleh para alim ulama.
Tidak lama berselang, datang lagi seseorang mendekati aku. Pikirku mungkin dia juga ingin bertawassul dengan amalnya. Tapi ternyata tidak. Dia mengeluarkan sebuah besi kecil namun keras. Sambil waspada terhadap keadaan, dia mencongkel tubuhku. Isiku berhamburan, orang ini bergegas untuk mengumpulkannya dan pergi begitu saja meninggalkan tubuhku yang terkoyak.
Ya Allah hari ini aku melihat dua orang yang sama-sama berusaha menggapai rezekiMu namun dengan cara berbeda. Yang satu bertawassul terhadap amalnya untuk mendapatkan ridhaMu namun yang satu lagi berbuat hal yang bagi orang lain adalah perbuatan tercela. Ah aku tak peduli apa yang mereka lakukan tapi di benakku aku meyakini keduanya sama-sama sedang membutuhkan uang meskipun aku ga pernah tau kebutuhannya untuk apa.
